a promise in cappadocia
A Promise
“Aku
kira kita akan berhenti di Istanbul”. Komentar Asha ketika mendapati bukan
sebuah sudut kota kuno khas Istanbul yang kini ada dihadapan mereka, mobil yang
mereka tunggangi terus berjalan melewati persawahan.
“Sayang
sekali jika kita melewati tempat menakjubkan yang akan kita lihat sebentar
lagi. Lagi pula, kita bisa mengunjungi Istanbul di hari terakhir kita berada di
Turki”. Balas Alvan lembut ketika mendapati wajah Asha yang mulai murung.
Asha
menarik napas dalam, lalu menuruti saja apa yang dikatakan Alvan. Mereka adalah
salah dua mahasiswa beruntung yang mendapat liburan gratis di Turki. Ini semua
berkat kecerdasan otak mereka. Tapi ajaibnya, mereka selalu saja menjadi
partner, entah ketika di kelas ataupun di luar kelas. Ini menjadikan mereka
lebih dekat lagi satu sama lain. Bahkan mereka sepertinya sudah saling memahami
sifat masing-masing.
“ Sabar
deh, sebentar lagi kamu bakal ngerasain takjub yang luar biasa” ucap Alvan lagi
karena Asha masih saja menampakkan wajah lesunya. Bus travel yang mereka naiki
mulai sedikit menurunkan kecepatan. Lalu mereka langsung disuguhi pemandangan
yang belum pernah dilihat seumur hidup. Bus ini sedang melewati pinggir danau
yang sangat indah. Danau terspektakuler yang pernah di liput di siaran tv
manapun. Danau ini bernama Danau Tuz. Semburat senyum langsung terpancar dari
bibir tipis Asha, Alvan ikut tersenyum.
Danau
Tuz adalah danau yang berisi air aisin.ketika musim panas tiba, permukaan danau
akan menyusut tajam, menyisakan lapisan garam setebal 30cm. Setelah melalui
tepi danau, bus yang mereka tumpangi terus melewati desa-desa kecil dengan
latar belakang padang stepa yang khas daerah sub tropis. Sesekali kawanan domba
tampak sedang merumput. Menyuguhkan pemandangan yang sungguh eksotis.
“
Pokok nya kita bagaimenjelajah bulan deh Sha..” ucap Alvan lagi membuat alis
tebal Asha terangkat sebelah.
“
Masa iy....” belum selesai Asha berbicara, Alvan meletakkan jari telunjuknya di
depan bibirnya agar Asha tak berbicaralagi. Gadis itu lalu hanya terdiam
menunggu kebenaran ucapan Alvan barusan. Lalu tercipta senyum di bibir Alvan
yang menampakkan lesung di pipi kirinya.
Mereka
lalu menuruni bus dan mulai memasuki kawasan Cappadocia. Untuk memasuki tempat
ini tak dibutuhkan uang sepeserpun. Kecuali jika ingin menaiki balon udara yang
harganya lumayan bagi seorang pelajar seperti mereka.
“ Van...”
panggil Asha
Sepersekian detik
mata kami bertemu dalam satu pandang. “ Indah bangeeeeeeet..” lanjut Asha
dengan mata berbinar. Kini ia benar-benar mempercayai 1000% ucapan Alvan tadi. Menit
berikutnya Asha berteriak seakan ia seorang anak berumur 5 tahun.
Kali ini Alvan
bukan lagi tersenyum, melainkan tertawa lepas melihat aksi Asha yang
kekanak-kanakan itu.
“ Ga salah kan
apa kataku..” kata Alvan sedikit menggoda Asha. Padahal sebelumnya Asha sangat
meragukan perkataan Alvan, tapi sekarang ia sunggu terhipnotis akan apa yang ia
lihat saat ini.
Farmasi batuan
vulkanik berbentuk kerucut menjadi pemandangan yang benar-benar unik. Ketika mereka
mulai berjalan menyusuri Cappadocia, Alvan mulai menerangkan bahwa
batuan-batuan vulkanik ini terbentuk dari abu vulkanik jutaan tahin yang lalu,
kemudian melalui proses erosi & abrasi,mereka menjelma bak panorama di
bulan seperti saat ini.
Langsung saja
kamera DSLR milik Asha menjalankan tugas pentingnya. Ia arahkan ke seluruh sisi
bebatuan itu. Banyak terdapat rumah-rumah yang sepertinya sengaja di ukir untuk
tempat perlindungan diri. Tak jarang mereka menemukan gereja-gereja. Karena dulu
tempat ini merupakan tempat persembunyian umat Kristen sebelum kehancurannya.
“ Kita ke sana
yuk” ajak Asha sambil menunujuk rumah-rumah gua yang tak jauh dari tempat
mereka berpijak. Ketika tangan Asha mencoba untuk menyentuh rumah gua itu,
butir-butir pasir halus menempel sebagian di telapak tangannya & sebagian
lagi tersapu angin.
Dari tempat
mereka berdiri tadi, mereka berjalan lagi menuju Goreme National Park. Banyak para
pedagang lokal yang berjualan di sisi-sisi jalan. Alavan berhenti sebentar
untuk membeli sesuatu. Lalu mereka berjalan lagi menuju bangku panjang di dekat
penjual tadi untuk sekedar beristirahat.
Angin negri
Turki menerpa-nerpa baju merah muda Asha. Matanya terpaku ketika Alvan
menatapnya lekat. Ketika itu mereka sama- sama duduk di ujung kursi. Menyisakan
jarak sekitar setengah meter. Ya meskipun mereka sudah cukup dekat, Asha telah
membuat perjanjian agar sedikit menjaga jarak bila bersamanya. Dan itu telah Alvan
turuti.
“ Sha, kali ini
aku mau ngomong serius sama kamu. Dan kamu harus janji untuk menanggapinya
dengan serius juga. Karena aku tau, biasanya kamu sering bercanda ” ucap Alvan
kemudian. Asha menuruti permintaan Alvan, ia mengagguk lalu Alvan meneruskan
kalimatnya.
“ Selama ini,
selama kita deket semenjak kejadian itu, aku makin ngerasa nyaman ada di deket
kamu. Aku bersyukur banget karena bisa di pertemukan wanita seperti kamu. Kamu supel,
ceria, mandiri, cerdas walaupun sering bercanda, dan satu hal yang paling
penting yaitu kamu juga agamis.Sha... ” suara Alvan terhenti sebentar
“ Sha, would you
marrie me?? ”
Asha terdiam
masih memproses semua kalimat panjangyang di ucapkan Alvan barusan. Dan baru
kali ini juga ia berserius dalam suatu hal. Asha seperti bermimpi di sore hari.
Ia di duduk di tempat terindah dan di lamar seorang pria tampan yang sebenarnya
telah ia kagumi dalam diam.pria yang sering ia tanyai tugas-tugas kuliah
meskipun sebenarnya ia sudah mengerti. Pria yang selalu menunda pekerjaan nya
di pagi hari untuk sholat duha. Kali ini Asha sungguh dibuat kaget sekaligus
senang.
“ pardon me
Alvan? ” ucapnya untuk memastikan bahwa apa yang dikatakan Alvan adalah benar.
“ Asha
Tazkiyatun Nisa, would you marrie me? ”
Benar. Telinga Aha
masih berfungsi normal, apa yang dikatakan Alvan adalah benar. Asha benar-benar
dilamar.
Mulutnya kini
tak bisa mengeluarkan sepatah katapun karena terlalu takjub, ia hanya mampu
mengangguk lemah di hadapan Alvan. Lalu Alvan berjongkok di depan Asha dan
mengambil kotak cincin yang sudah ia siapkan sejak di Indonesia. Ia membukanya
perlahan dan memasukkan cintin berlian cantik itu pada jari manis Asha.
Langit cerah
Cappadocia turut bersuka cita atas kejadian ini. Sore itu, adalah sore terindah
bagi mereka berdua. Sepulang dari Turki mereka sepakat untuk menikah. Rasanya saat
ini dunia hanya milik mereka berdua. Hembusan angin menerpa pori-pori kulit
mereka lembut
“ Sha, i
promise, i’ll loving you now, tomorrow and for a thousand years more. I love
you ”
“ I love you too
”
___karena
tak selamanya pacaran berujung di pelaminan___
http://www.jufnahkabir.blogspot.co.id

Komentar
Posting Komentar