A Rose



A Rose
Aku tertegun ketika ada seseorang menyentuh pelan bahu kananku. Sekilas, bayangan – bayangan buruk menyapa otakku. Aku langsung bangkit dari dudukkudan berbalik dari posisiku sekarang.
“ Ayoikut aku ”
Tepat ketika aku mendapati sosokpria berbadan tegap,bermuka tirus yang dihiasi rambut halus di sekitar dagunya. Ia tersenyum simpul kepadaku yang masih dipenuhi pertanyaan tentang asal-usul pria di hadapanku ini. Aku mulai sadar dari lamunanku ketika ia melambaikan tangan nya di hadapan mukaku. Lalu ia tersenyum lagi dan seperti mentransfer kedamaian kedalam jiwaku.ia seolah tau bahwa aku dikerumuni oleh rasa takut dan heran. Tapi rasa damai dari senyum manisnya membuat perasaan takutku sirna bak tertiup angin.
Matahari sudah hampir tenggelam. Menciptakan sunset terindah yang pernah kulihat. Rok panjang biruku bardansa tertiup angin. Semua keadaan sore ini sangat bersahabat dengan sipria yang mulai ku ikuti langkahnya dari belakang. Ia berjalanpelan sejak beberapa detik sebelumnya. Kami melewati wajah-wajah turis asing.  “ dimana aku? ”
Batinku mulai risau lagi.
Mataku menelusuri setiap jengkal tempat ini. Bahkan aku berusaha untuk tidak berkedip meskipun aku tahu ini sangat sulit apalagi disaat angin mulai membuat mataku sedikit kering. Mana mungkin aku tidak berkedip. Hey!! Banyak rumah-rumah tua yang di pahat pada bebatuan vulkanik besar.
“ Bukankah kau mengaggumi tempat ini? ” ucapnya sedikit berbisik padaku yang lebih pendek darinya. Jujur, aku masih terpaku dengan pemandangan menakjubkan di depanmataku. Aku mengernyitkan dahi ketika mendengar pertanyaan nya tadi.. kemudian turis-turis yang berseliweran menghilang begitu saja. Menyisakan kami berdua ditempat seluas ini.
Semilir angin ikut menari-nari dan menerobos pori-pori kami. Priaitu menatapku lekat, tanpa berkedip. Pipiku memanas ketika untukkesekiankalinya ia tersenyum. Ia mengambil sesuatu dari balik jaketnya, lalu di tangan kananya sudah ada bunga mawar yang kemudian ia beri padaku. Dengan sedikit keraguan ku raih bunga mawar putih itu lalu menciumnya.
Mataku terpaku ketika lagi-lagi ia memancarkan senyum manisnya. Siapapun yang melihatnya tersenyum takkan mungkin jika tidak tersenyum balik padanya.yup, senyum itu memang seperti virus yang sangat cepat penularannya, hanya hitungan detik bahkan lebih cepat dari itu. Dan ternyata aku mulai sadar bahwa pria mans di hadapanku memiliki kadar pesona yang sanggup membekukan pikiranku hanya dengan melihat senyumannya.
“ Terima kasih”
Hanya itu yang mampu ku ucapkan. Aku yakin mukaku sudah semerah kepiting rebus saat ini. Lalu, aku dan pria itu berjalan lagi menyusurijalan datar dengan pemandangan batuan-batuan vulkanik yang cantik. mahakarya tuhan memang menakjubkan.
Sebenarnya sejak tadi aku sedang mengingat-ingat tempat ini. Pemandanganya bagai tak asing lagi di mataku. Sungguh, rumah-rumah itu nampak eksotis. Terlihatkuno tapi memiliki nilai seni dan klasik yang tinggi. Demi apapun itu,aku suka sekali dengan pemandangan bak di bulan ini!!!
“oiya.. ini Cappadocia!!” aku sedikit berteriak ketika baru saja terinagt nama tempat ini. Inilah Cappadocia. Salah satu tempat memukau yang tak boleh terlewatkan jika kita pergi ke turki.
Sungguh, aku sangat terpesona dengan pemandangan ini! Karang vulkanik yang dipahat dan disulap menjadi rumah dan segala bangunan cantik. Sangat mengagumkan.
Rasanya, jika aku mampu untuk tidak berkedip selama mungkin, akan ku lakukan demi tempat ini. Mataku tak bisa ku alihkan darikastil dan rumah-rumah batu di hadapanku ini. Ku pejamkan mataku sebentar,lalu ku hirup dalam-dalam udara di Cappadocia.
***
“ Shafa! Shafa!”
Mataku memandang setiap sisi ruangan ini. “ hah?! Ruangan? ”kenapaaku jadi ada dalam ruangan? Kepalaku sedikit pening. Meskipun begitu, tetap ku paksakan unutk tetap bangkit dari ranjang empuk ini. Aku masih bingung mengapa aku jadi ada di ruangan ini.
“ Apaan sih Shafaa?? Bangun ih!mimpi apaan sih kamu? ” kak Zayn lalu mengambil novel dari atas kasurku dan ia tersenyum geli.
“ Jadi ini yang bikin kamu mimpi aneh? Hahaha dari dulu kamu itu lucu tiap kali abis baca novel terus ketiduran.. dasar Shafaa ”
Dan akupun sadar bahwa pria tampan dan bunga mawar serta tempat menakjubkan tadi hanyalah bunga tidurku. Akhirnya aku berjalan menuju kamar mandi. Kubasuh mukaku di westafel, teringat wajahku yang pasti memerah tiapkali ia tersenyum ramah padaku. Tapi sayangnya itu hanya mimpi.
Eits.. mataku tanpa sengaja menangkap setangkai bunga di atas westafel. Aku takut inipun sebagian dari mimpi. OMG. Its real! Ku sentuh pelan, kemudian mulai ku angkat dan kucium aromanya. Masih sesegar saat itu. Dan ternyata masih ada secarik kertas ping kecil didekat tempat bunga itu di taruh.
SAM

CAPPADOCIA

Komentar